Setahun ini

by Iqbal

Current Music: Daft Punk – Get Lucky

Akhir-akhir ini jarang ngeblog. Kalau nulis blog pun kebanyakan rekomendasi. Bukan jelek juga sih, cuma enggak bisa menjadi diary atau catatan dan reminder hari-hari yang telah lewat. Jadi kali ini tidak nulis rekomendasi. Bukan enggak ada yang mau direkomendasi juga, album Frau yang baru udah keluar. Download aja di sini, gratis dan legal. Kalau suka beli kemasan fisiknya. Lagunya keren. Sepertinya udah mengubah jalur, tidak terasa mirip lagu Regina Spektor lagi.

Oke, kembali ke nulis pengalaman aja ya. Aku tahun lalu lulus dari STAN. Seharus menurut sejarahnya beberapa bulan setelah lulus akan diangkat menjadi PNS. Nah kalau kami dianggurin selama 1 tahun. Ngangur. Ada juga yang magang di kantor-kantor lain. Tapi aku enggak magang karena tidak jelasnya durasi ngangur ini. Takutnya sudah terikat kontrak kerja magang malah diangkat sebagai PNS. Rasa malas juga mempengaruhi sih. Satu angkatan dianggurin begini kalau enggak salah karena sebagian orang merasa lulusan STAN yang langsung diterima di Kemenkeu adalah tidak adil. Jika yang lain harus dites mengapa lulusan STAN tidak. Padahal kami lulus SMA masuk STAN dites kayak tes PNS juga. Nah Akhirnya kami dites seperti yang lain, masalahnya sudah ada peraturan yang menyatakan kalau tes itu hanya bisa dilaksanakan pada tanggal tertentu. Dan tanggal itu sudah lewat, nunggu setahun baru bisa dites lagi agar sesuai dengan peraturan. Enggak tau kejadiannya benar demikian atau sekedar alasan. Kami tahu kalau ada kejadian begitu juga sudah ngangur beberapa bulan.

Sekarang selama ngangur itu ngapain aja? Yang jelas bukan belajar. Sebagian besar ilmu yang sudah diperoleh sudah lupa-lupa ingat. Yang jelas waktu ngangur ini lebih aku anggap sebagai libur panjang, sangat panjang. Jalan-jalan adalah jawaban yang tepat untuk mengisinya. Kemana aja ya, kayaknya sempat ke Banda Aceh dan ke Sabang. Numpang dikosan sepupu. Inginnya mencari orang Aceh yang bermata biru. Katanya sih dari dulu sudah ada mungkin sejak penjajah ada di sana. Tapi lokasinya enggak tau. Sempat juga ke Jakarta saat musim banjir. Ibukota negara ini semakin malesin. Lalu berlanjut ke Jogja. Setelah beberapa kali (mungkin 4 atau 5) tidak sampai puncak Borobudur kali ini kesampaian juga. Salah satu achievedment yang sangat membahagiakan. Kemudian mengunjungi Pulau Dewata. Ini yang kedua kalinya. Masih ingat beberapa lokasi wisata namun masih belum bisa melihat prosesi Ngaben, mungkin lain kali. Serta berkunjung ke Batam dan Singapura. Saat masuk ke  Singapura, aku ditarik dan diintrogasi. Dengan status jobless dan passport yang masih polos aku dikira ingin mencari kerja di sana dan menetap tanpa ijin. Saat itu lah kemampuan berbicara bahasa inggris ku diuji. Dan gagal dengan memalukan. Membaca bahasa inggris bisa cuma karena jarang praktek bicara ya bingung sendiri milih vocabnya.

Selama ibur ini juga banyak mempelajari skil-skil yang mungkin akan bermanfaat di kemudian hari. Sempat belajar masak makanan Aceh biar kalau rindu makanan rumah bisa buat sendiri. Bisa juga membuat ayam cola serta oreo goreng, resep yang mudah dan enak. Melanjutkan pelajaran musik dari SMA aku melanjutkan belajar gitar dan piano. Chord dan scalenya sudah tahu lah, tapi ear training masih kurang. Mungkin bisa menciptakan lagu untuk merayu wanit apujaan hati? Siapa tahu. Aku juga belajar menggambar potrait dan figure, gambar dikanan atas itu adalah gambar wajahku sendiri. Lumayan mirip lah. Kayaknya. Serta mulai belajar menggunakan DSLR yang telah lama aku beli. Masih belum bisa memaksimalkannya, mungkin akan bergabung dengan komunitas. biar bisa nanya-nanya.

***

Akhirnya tanggal 30 Agustus kemaren tesnya diadakan. Setelah daftar online kami  akan tes di kota pilhan masing-masing. Karena daftar online  kami harus membawa bukti identitas sebelum mengikuti tes. Dan dompet ku hilang di waktu yang sangat tepat. ATM, KTP, SIM A dan C, hilang beserta THR yang kudapat waktu Lebaran. Untung saja, karena teledor KTP elektronik yang telah selesai 6 bulan yang lalu masih ada di tangan yang berwenang alias belum diambil sampai sekarang. Tinggal ambil KTP yang sudah jadi. Selesai. Tesnya sendiri ada 3 jenis, wawasan kebangsaan (TWK), itelejensia umum (TIU) dan karakteristik kepribadian (TKP). Karena hafalanya terlalu luas aku tidak berharap banyak dari TWK dan fokus ke dua yang lain. TIU lebih ke logika, kayaknya kalau serius baca soal dan sering main teka-teki bisa lah. Kalau TKP mengambil istilah temanku “yang paling munafik benar”. Dan hasil tes muncul saat itu juga jadi tidak sempat meminta untuk mendongkrak nilai, untung lulus. Dan kami akan dipekerjakan segera. TMT 1 Oktober, enggak kerja pun gaji masuk terhitung mulai tanggal tersebut.

Jadi kasihan juga, beberapa saat lagi akan bekerja tapi beberapa kenalan yang orang tuanya meninggal. Kayaknya bangga bisa memperoleh penghasilan sendiri dan mempersembahkannya ke orang tua. Bahkan ada temanku yang pindah ke D1 STAN padahal sudah 2 tahun kuliah karena sadar orang tuanya sakit-sakitan dan ingin segera memperlihatkan dirinya mengenakan baju toga. Namun umur orang tuanya lebih cepat habis. Tapi ada juga beberapa kabar gembira. Beberapa orang sudah menikah dalam jangka waktu itu. Berarti umurnya 21-23 kan, masih muda. Tidak ikut saran pemerintah untuk tidak menikah di usia dini. Yah, pilihan mereka.

Sebentar lagi aku akan ditugas kan ke salah satu kota di Indonesia. Sejak pindah dari ITB ke STAN ini aku sudah tahu dan berusaha mempersiapkan diri. Dimana pun tempatnya semoga enggak menyesal. Karena hidup lebih dari sekedar memilih tapi juga setia pada pilihan. Mintanya sih di wilayah Indonesia bagian barat. Zona waktu WIB. Tapi kalau pun enggak, aku sudah beli buku Agustinus Wibowo yang berjudul Titik Nol. Tentang perjalanan. Sebagai panduan lah, walaupun belum tahu isi bukunya apa. Ciao.

P.S. baru tau kalau Ciao adalah bahasa Italia bukan Cina.

Advertisements